Video Description
#tribuntimur #tribunviral #waisak #buddha #makassar
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Ratusan umat Buddha di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengikuti rangkaian ibadah Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE)/2026 Masehi.
Mereka melaksanakan ibadah di Vihara Girinaga, Jl Salahutu II, Kelurahan Maricaya Selatan, Kecamatan Makassar, Minggu (31/5/2026).
Vihara Girinaga berjarak 2,6 kilometer ke arah timur tenggara Balai Kota Makassar.
Umat Buddha memadati vihara tertua di Kota Makassar ini sejak 07.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita) untuk Puja Bakti Buddha.
Puja Bakti Buddha merupakan ritual peribadatan umat Buddha untuk menghormati Triratna, yaitu Buddha, Dhamma dan Sangha.
Vihara Girinaga melaksanakan dua kali ibadah untuk memperingati Hari Raya Waisak.
Ibadah pertama dimulai pagi tadi, sekira 07.30 hingga pukul 11.30 Wita.
Roy Ruslym menuturkan berbagai rangkaian ibadah dilakukan umat Buddha.
Diawali dengan Puja Bakti, yakni menaikkan bendera Buddhis.
Kemudian pembacaan Paritta Jayamangala atau syair-syair lapangan kemenangan agung Sang Buddha dalam mengatasi rintangan.
Dilanjutkan dengan persembahan-persembahan, baik itu persembahan dupa, persembahan lilin, persembahan air, buah, dan obat-obatan.
Lalu Puja Bakti yang dipimpin oleh Bhikkhu Sangha. Terakhir meditasi, khotbah dharma yang disampaikan oleh Bhikkhu Sangha.
Ibadah kedua dilaksanakan siang, sekira pukul 14.00 Wita.
Roy Ruslim menyebut, sekira ratusan umat Buddha bakal hadir beribadah di Vihara Girinaga.
“Sebentar siang nanti, sekira 500 umat hadir,” ujarnya.
Tema dan Rangkaian Kegiatan Waisak
Tahun ini Vihara Girinaga mengangkat tema Waisak Membawa Kedamaian di Hari Raya Waisak.
Roy Ruslym menjelaskan, tema ini diangkat karena melihat situasi saat ini kedamaian menjadi suatu hal yang sangat langka.
Bisa dilihat di mana-mana terjadi peperangan, huru-hara, tingkat egois yang besar dan lain sebagainya.
Olehnya itu, di momen Hari Raya Waisak ini muncul kedamaian.
Ia menyebut, mewujudkan kedamaian dunia tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar.
Setiap individu dapat berperan dengan membangun kedamaian dalam dirinya sendiri terlebih dahulu.
Berbagai kegiatan dilaksanakan di momen Hari Raya Waisak, seperti Pindapata.
Roy Ruslym mengatakan, Pindapata di Makassar digelar di Jl Sulawesi. Umat memberikan dana, pakta kepada para biksu sangha.
Ada pula kegiatan sosial, berupa donor darah dan memberikan donasi kepada fakir miskin.
Pada Sabtu (30/5/2026) malam, digelar 1001 Pelita Sejuta Harapan dengan melakukan peresmiannya di bawah pohon bodhi.
Kegiatan ini dipimpin oleh biksu sangha diikuti oleh umat Buddha yang meditasi di bawah pohon bodhi.
Ia menjelaskan, pohon bodhi ini simbol pohon yang memberikan keteduhan, perlindungan kepada Pangeran Siddhartha Gautama selama meditasi di bawah pohon.
Waktu Pangeran Siddhartha mencapai penerangan sempurna, pohon ini mengeluarkan cahaya luar biasa.
Makanya, kemarin malam, umat mempersembahkan pelita dengan tujuan dharma ajaran Sang Buddha.
Pesan Waisak
Roy Ruslym pun mengajak seluruh umat Buddha menjadikan ajaran dharma sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, praktik dharma yang dilakukan secara konsisten akan membentuk kebiasaan positif, yang pada akhirnya melahirkan kedamaian dan kesadaran untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama.
Ia melanjutkan, kesadaran untuk berbuat baik akan mendorong seseorang untuk berbagi kepada sesama dan mengembangkan cinta kasih kepada seluruh makhluk tanpa membedakan latar belakang apa pun.
Ketika cinta kasih terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kedamaian akan hadir secara alami, baik dalam diri individu maupun di lingkungan sekitarnya.
Bhikkhu Sangha dari Kamboja
Ibadah di Vihara Girinaga dipimpin oleh bhikkhu sangha dari Kamboja. Ada enam bhikkhu sangha didatangkan.
Roy Ruslym menyampaikan, bhikkhu sangha datang untuk pembacaan doa dan paritta dalam bahasa Pali, bahasa yang digunakan dalam kitab suci umat Buddha.
Ia menerangkan, bhikkhu sangha memiliki kemampuan membacakan paritta-paritta yang berasal dari sutta atau sabda-sabda Sang Buddha yang dahulu disampaikan oleh Guru Agung, Samma Sambuddha Gautama.
Paritta yang dibacakan merupakan bagian dari ajaran yang termuat dalam kitab suci Tipitaka berbahasa Pali kuno.
Melalui pembacaan tersebut, ajaran Buddha kembali diulang dan disampaikan kepada umat sebagai pengingat nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Sang Buddha
Naskah: Kaswadi Anwar
Editor Video: Ahmad Faiz Faqih
Naskah : Wa Ode Nurmin
Host: I Luh Devi Sania
(TRIBUN-TIMUR.COM)
Update info terkini via http://tribun-timur.com/
Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks
YouTube business inquiries: 081144407111
Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur
Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur