视频说明
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUNJATIM.COM , JEMBER - Sejumlah orang terlihat mendatangani sebuah rumah di Perumahan Villa Tegalbesar, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Mereka datang sambil menenteng sampah. Warga datang silih berganti.
Sementara di rumah tersebut, sejumlah orang terlihat sibuk. Ada yang memilah sampah, menimbang sampah, juga mencatat hasil penimbangan.
Tempat itu adalah lokasi Bank Sampah Sripeling (Srikandi Peduli Lingkungan) berada.
Warga yang datang silih berganti adalah nasabah Bank Sampah Sripeling.
Sebulan dua kali, Bank Sampah Sripeling melakukan penimbangan sampah.
Melalui upaya kecil itulah, pemilahan sampah dimulai dari sumber primer yakni rumah tangga.
Apalagi nasabah Bank Sampah tersebut antusias datang dan menabung sampah setiap Kali penimbangan, seperti yang terlihat Sabtu (16/5/2026).
"Wah ini sabtu-sabtu banyak juga nasabah yang menabung sampah," ujar Ketua Bank Sampah Sripeling Nursiyatin.
Perempuan yang akrab dipanggil Umma Titin itu menyebut, penimbangan sampah kerap dilakukan di hari Minggu, karena sebagian besar waktu libur keluarga.
Waktu penimbangan itulah menjadi waktunya warga menabung sampah.
Meski baru memasuki tahun keempat, nasabah Bank Sampah Sripeling terbilang banyak yakni 60 orang.
Mereka sebagian besar adalah warga RW 07 Perumahan Villa Tegalbesar.
"Dari jumlah itu, 30 orang di antaranya menabungkan hasil sampahnya ke tabungan emas," imbuh Titin.
Bank Sampah Sripeling bekerjasama dengan PT Pegadaian untuk tabungan emas tersebut.
Karenanya, bank sampah itu memakai tagline 'ayo tabung sampahmu jadi emas' ketika membikin woro-woro waktu penimbangan sampah.
Sampah Bernilai Ekonomi
Bank Sampah Sripeling memberi kontribusi, setidaknya tiga hal penting bagi warga, yakni menjaga lingkungan, edukasi, dan ekonomi.
"Menjaga lingkungan itu dengan memilah sampah dari sumber utama, yakni rumah tangga. Supaya sampah ini tidak semuanya terbuang ke tempat pembuangan akhir sampah yang sekarang juga sudah menggunung. Tentu ini turut menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah," tegas Titin.
Sedangkan manfaat edukasi juga bisa didapatkan oleh nasabah atau warga. Warga yang awalnya tidak paham jika sampah bernilai ekonomi, akhirnya paham, termasuk bagaimana memilah sampah.
Mereka belajar memilah aneka jenis sampah anorganik, sebab masing-masing jenis memiliki harga sendiri dari sisi manfaat ekonomi.
"Ada yang belajar di lokasi penimbangan, mereka datang dalam kondisi sampah dicampur, kemudian dipilah di sini. Ada juga yang belajar satu kali, kemudian datang lagi sudah dalam kondisi sampah terpilih. Jadi kami juga memberikan sisi edukasi," lanjutnya.
Sedangkan dari sisi ekonomi jelas manfaatnya. Sebab memang hanya sampah anorganik bernilai ekonomi yang bisa masuk ke bank sampah.
Warga bisa menukar sampahnya dengan uang yang ditabung, atau juga menabungkan hasil penjualan sampah itu dalam bentuk tabungan emas.
VP: EDY
Reporter: Sri Wahyunik
Website https://jatim.tribunnews.com/
Twitter https://twitter.com/tribunjatim
Facebook https://www.facebook.com/tribunnewsjatim
Instagram https://www.instagram.com/tribun_jatim/
#tribunjatim #matalokalmenjangkauindonesia